Alam tempat hidup manusia pasti cenderung memiliki keteraturan. Hal ini terbentuk dari setiap tindakan yang dilakukan secara berulang dan melalui proses interaksi dengan manusia lain, sehingga membentuk tata nilai sebagai hasil kesepakatan bersama yang pada akhirnya menjadi pedoman dalam berinteraksi, demi menjaga kebebasan individu agar tidak mengganggu kebebasan individu yang lain. Dari hasil proses inilah kemudian muncul sesuatu yang ideal dalam hidup, dimana jika seseorang memenuhi segala hasil tersebut sebagai pedoman dalam menjalani hidupnya akan tercipta keteraturan sosial. Istilah yang dianggap mewakili dalam konteks keilmuan adalah apa yang disebut dengan idealisme.

Idealisme akan selalu mengikuti ilmu pengetahuan dan segala aturan yang menjadi pedoman dalm hidup bermasyarakat, karena merupakan bentuk implementasi dari ketaatan dan kepatuhan manusia dalam mengikuti dan ataupun menerapkan ilmu serta aturan. Keberadaan paham ini bukanlah hal yang sulit diwujudkan, karena dalam memahaminya bukan merupakan ide, tetapi lebih kepada sifat dari penganutnya yang senantiasa berbuat sesuatu yang ideal, dalam hal ini berarti sesuai dengan kondisi seharusnya yang telah dianggap benar oleh orang kebanyakan secara fakta dan secara teori bahkan telah dituangkan dalam aturan yang wajib ditaati.

Pelaku dalam dunia pendidikan sering mendapat gelar insan paling idealis. Hal ini dilatarbelakangi oleh pendidikan sebagai institusi yang menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai sosial, maka sudah selayaknya apa yang diperoleh menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sosial.

Pergeseran Nilai

Tidak hanya dalam sinetron, kehidupan ini juga banyak menyajikan peran antagonis. Seseorang yang mengutamakan kepentingannya pribadi dan menghalaakan segala cara untuk memperkaya diri, tentu menganggap idealisme sebagai musuh dalam usahanya mencapai apa yang menjadi keinginannya. Kondisi inilah yang pada akhirnya menempatkan istilah anti kemapanan melekat pada sosok idealis, karena memaksanya bertahan ditengah orang lain yang memilih mengikuti hegemoni si antagonis dengan dalih mengikuti perkembangan zaman. Alienasi dalam pergaulan terjadi, hingga menjurus pada pemisahan kelompok masyarakat atas orang yang dinilai idealis.

Seorang mahasiswa yang berdemo menuntut pendidikan murah yang seharusnya menjadi haknya, mugkin saat ini akan mendapat cibiran dari kawan-kawannya sesama mahasiswa, dengan anggapan tugas mahasiswa itu hanya belajardan keputusan kuliah tentunya akan diambil oleh yang benar-benar mampu, termasuk dalam hal biaya. Demikianlah kehidupan yang berhasil diciptakan sebagai fatamorgana dari modernitas oleh kaum antagonis, dengan transaksional sebagai nalarnya. Benturan juga dihadapkan saat kelak mereka telah di dunia kerja, orang yang memiliki prinsip taat kepada aturan demi kemashlahatan bersama, akan dicemooh oleh rekan kerjanya yang melakukan korupsi kecil-kecilan. Dalih yang dipakai adalah, “tentu kamu menginginkan kelebihan harta demi kesejahteraan anak istrimu”.

Kerasnya fatamorgana kehidupan yang berhasil diciptakan telah membuat idealisme menjadi mandul, karena akan membuat orang memilih ikut arus sehingga mandapat kesejahteraan semu yang mungkin tidak bertahan lama ataukan mempetahankan idealism yang berarati aka jauh dari kesejahteraan saat ini. Sebagai pertimbangan dalam memutuskannnya adalah dengan melihat jangka panjang dari akibat yang mungkin ditimbulkan. Orang yang selalu ikut arus dan tidak berprinsip akan mudah menjadi budak, dan menjadi obyek eksploitasi. Sementara yang berprinsip akan tangguh menghadapi perubahan dan akan tampil sebagai pemimpin yang mampu mengendalikan perubahan.

Untuk lebih lengkap silahkan download disini